Notification

×

Iklan

Iklan

Mengenal Tradisi "Ngesanga", pemanjatan Do'a dan Harapan agar Cuaca Bersahabat Kembali

| Kamis, Februari 11, 2021 WIB Last Updated 2021-02-11T15:32:47Z
Ngesanga, Salah satu Tradisi untuk meminta  Cuaca tetap bersahabat kepada sang Kuasa


PARAGRAF- Sebagian umat Hindu di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) merayakan hari raya Kesanga atau Ngesanga, Kamis 11 Februari 2021. Tradisi turun temurun ini memiliki makna filosofi cukup tinggi, terutama dalam memanjatkan doa agar masyarakat terhindar dari bencana, dan cuaca esktrim bisa kembali bersahabat.


"Tujuannya memanjatkan doa kepada Sang Maha Kuasa agar cuaca ekstrim ini segera berlalu dan alam kembali bersahabat. Sehingga masyarakat terhindar dari mara bahaya dan bencana," kata Tokoh Hindu Pajang Mataram, Ir I Nengah Sugiartha, Kamis (11/2) di Mataram.


Uniknya, meski merupakan bagian dari ibadah pemanjatan doa dan harapan, Ngesanga hanya dilakukan di Lombok. Khususnya umat Hindu Bali yang leluhurnya berpindah ke Lombok ratusan tahun lalu.


"Di Bali tidak dilaksanakan Ngesanga ini. Jadi, ini menjadi tradisi budaya yang sangat perlu dilestarikan, karena hanya di Lombok adanya," katanya.


Secara umum, Ngesanga tidak jauh berbeda dengan hari raya lainnya, seperti Galungan dan Kuningan. Umat beribadah dan berdoa di Pura umum dan Pura keluarga sebagai ungkapan kesyukuran.


Namun, Ngesanga lebih kepada pemanjatan doa dan harapan agar cuaca buruk dan ekstrim bisa segera berlalu.


"Karena itu lah, Ngesanga ini dirayakan pada bulan Tilem Kewalu (ke delapan) setiap tahunnya. Ini selalu bertepatan dengan sehari sebelum hari raya Imlek," katanya.


Selama ini, secara astronomi Imlek juga dikaitkan dengan masa peralihan cuaca ekstrim menuju normal kembali.


Sugiartha mengungkapkan, tradisi Ngesanga sudah dilakukan masyarajat Hindu di Lombok. Terutama bagi mereka yang leluhurnya pindah ke Lombok sejak ratusan tahun lalu.


Saat itu, cuaca esktrim dan banyak bencana terjadi. Para leluhur kemudian memanjatkan doa melalui Ngesanga agar cuaca kembali bersahabat.


"Dari cerita turun temurun, tradisi ini memang untuk memanjatkan doa agar alam bersahabat," kata Sugiartha yang juga anggota DPRD Kota Mataram ini.


*Sajian Berupa Ketupat dan Menu Tum*

Ngesanga juga menjadi wadah silaturahmi masyarakat. Dalam perayaan Ngesanga, sajian utama yang disuguhkan adalah Ketupat dengan menu makanan berupa Tum. Ini olahan daging ayam atau bebek yang dibungkus daun pisang.


"Biasanya kita saling kunjungi tetangga, kerabat, atau keluarga. Sajian utama Ketupat, ini juga menjadi keunikan tersendiri," katanya.


Ia mengatakan, meski sebagian masyarakat Hindu lainnya tak merayakan Ngesanga, hal ini tak perlu menjadi perdebatan.


Yang perlu dipetik dari Ngesanga ini adalah niat dan tujuannya yang bagus. Ini juga melingkupi bagaimana menjaga hubungan manusia dengan alam yang sama-sama diciptakan Tuhan Yang Maha Kuasa untuk hidup berdampingan.


"Perbedaan tidak perlu menjadi perdebatan, justru harus menjadi sebuah kekayaan dalam keberagaman. Kita ambil nilai nilai luhurnya saja dalam Ngesanga ini. Ini bisa dibilang tradisi budaya yang patut dilestarikan," katanya.

×
Berita Terbaru Update