Notification

×

Iklan

Iklan

Tolak Bala di Petilasan Dewi Anjani, Kearifan Lokal Sembalun Menangkal Bencana

| Rabu, Februari 03, 2021 WIB Last Updated 2021-02-03T10:31:34Z
Prosesi ritual Nyentulak Tolak Bala di Desa Bilok Petung, Sembalun, Lombok Timur.

PARAGRAF - Masyarakat Sembalun menggelar doa bersama dan ritual adat "Nyentulak Tolak Bala", Senin (1/2) di petilasan Dewi Anjani, Batu Bongok, di Dusun Bilok, Desa Bilok Petung, Kecamatan Sembalun, Lombok Timur. 


Tokoh masyarakat yang juga tetua adat Sembalun, H Purnipa mengatakan, prosesi ritual adat Nyentulak Tolak Bala ini merupakan tradisi kearifan lokal masyarakat sebagai ikhtiar menangkal bencana, alam dan non alam.


"Nyentulak Tolak Bala ini salah satu ikhtiar kita agar Covid-19 yang melanda Indonesia segera berahir, dan khususnya di Lombok agar terhindar dari bencana alam juga, baik gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang dan segala musibah lainnya," katanya, Senin (2/2) di sela kegiatan. 


Nyentulak Tolak Bala merupakan ritual adat yang dilaksanakan masyarakat Sembalun, untuk menangkal bencana dan mara bahaya. Biasanya prosesi digelar jika ada bencana atau ancaman bencana yang diperkirakan akan menimpa.




Belakangan ini cuaca ekstrim berdampak pada bencana alam di hampir semua wilayah Indonesia, pandemi corona pun semakin tidak menentu kapan berakhirnya.


Prosesi ritual dilaksanakan di Batu Bongok yang berlokasi di Dusun Bilok dan diyakini sebagai petilasan Dewi Anjani, sosok mitologi yang dipercaya sebagai penguasa Gunung Rinjani. Sejak minggu Malam (31/2),  Masyarakat adat membawa hasil bumi, sementara para pemangku adat melakukan ritual pemanjatan doa dan harapan di areal petilasan.


"Ritual ini sudah dilakukan turun temurun sejak leluhur, terutama jika ada ancaman dan potensi bencana. Jadi tidak ada waktu khususnya, bisa dilakukan sewaktu-waktu jika memang dibutuhkan. Ini supaya masyarakat terhindar dari bencana dan marabahaya," jelasnya.


Menurut Purnipa, kegiatan adat ini memperkuat ikhtiar yang dilakukan dengan berdoa bersama. Ia berharap hal ini akan membantu agar Lombok dan Indonesia pada umumnya bisa terhindar dari segala macam bencana.


"Jadi menurut cara agama sudah kita lakukan, dan begitu juga prosesi adat sudah kita adakan. Yang terpenting kita lakukan saat ini ikhtiar dan berdoa, selebihnya Allah SWT yang menentukan," tukasnya.


Seremoni ritual adat di Sembalun, Senin (1/2) dihadiri Sekda Provinsi NTB, H Lalu Gita Ariadi, Kabinda Provinsi NTB, Ir Wahyudi Adi Siswoto, Kapolda NTB yang diwakili oleh Dir Intelkam Polda NTB Kombes Pol Sutrisno, Wabup Lotim, H Rumaksi, Kapolres Lotim, AKBP Tunggul Sinatrio, para tokoh agama dan tokoh masyarakat dan masyarakat Desa setempat. 


Pelaksanaan kegiatan juga dilakukan dengan mengutamakan Prokes Covid-19.


Kepala Desa Bilok Petung, Rusdi mengatakan, kegiatan ritual Nyentulak Tolak Bala yang digelar ini, juga merupakan salah satu upaya melestarikan budaya dan kearifan lokal, sekaligus  memelihara situs bersejarah yang ditinggalkan oleh leluhur. Lebih dari itu, agar para pemuda-pemudi di Desa Bilok Petung mengenal kembali adat istiadat yang hampir punah di era digital pada saat ini. 


Bukan hanya sekedar berdoa bersama, namun lebih dari itu. Supaya para pemuda atau generasi saat ini tahu cara untuk melestarikan situs-situs budaya di Desa ini.


"Semoga dengan acara doa bersama Nyentulak Tolak Bala ini, pandemi Covid-19 segera musnah dan diangkat oleh yang Maha Kuasa dari muka bumi ini terutama di Indonesia. Dan wilayah Sembalun terhindar dari bencana alam, seperti gempa bumi dan tanah longsor," ujarnya.


Rusdi menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada semua yang terlibat dalam menyukseskan acara ritual adat di Desanya. 


"Alhamdulillah, acara yang kita lakukan berjalan lancar meski diselimuti cuaca mendung. Ini kan berkat kerja sama kita semua, dan terimakasih tamu undangan baik dari forkomda NTB dan forkopimda Lotim yang berkenan hadir diacara yang kami selenggarakan," katanya.


×
Berita Terbaru Update