Notification

×

Iklan

Iklan

Antisipasi COVID-19, Pengurus Masjid di NTB Diminta Taati Prokes Jelang Ramadhan

| Kamis, Maret 25, 2021 WIB Last Updated 2021-03-25T12:57:55Z
Foto: Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, HL Gita Ariadi.


PARAGRAF- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat meminta seluruh pengurus masjid di wilayah itu untuk mematuhi protokol kesehatan selama bulan suci Ramadhan 1422 hijriah.


"Kita sudah surati kabupaten dan kota untuk mengimbau seluruh masjid yang ada menerapkan protokol kesehatan, tetap gunakan masker, menyediakan handstanizer, tempat cuci tangan serta mengatur jarak," kata Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, HL Gita Ariadi di Mataram, Kamis.


Selain bersurat ke pemerintah kabupaten dan kota, Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB kata Gita juga sudah berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama NTB untuk juga bersama-sama mensosialisasikan prokes COVID-19 kepada pengurus masjid di wilayah itu.


"Sosialisasi atau anjuran ini penting dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan penyebaran COVID-19," ujarnya.


Ketua Pelaksana Harian Satgas COVID-19 Pemprov NTB ini mengakui, saat ini kesadaran masyarakat mentaati protokol kesehatan COVID-19 sudah sangat tinggi dibanding awal-awal kemunculan COVID-19 satu tahun lalu. Termasuk, ketika masyarakat melakukan aktivitas keagamaan di lingkungan masjid.


Meski demikian, Gita mengingatkan walaupun masyarakat sudah menyadari pentingnya penerapan prokes, namun pihaknya berharap penerapan tersebut tidak boleh kendor, terlebih selama pelaksanaan bulan ramadhan. Karena biasanya intensitas keagamaan selama bulan puasa tinggi dari hari biasanya.


"Makanya itu, bulan puasa nanti, kita jadikan masjid sebagai tempat kebiasaan baru sehingga rantai COVID-19 ini bisa terputus," ujarnya.


Sebelumnya, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI), H Muhammad Jusuf Kalla mengatakan umat Islam di seluruh Indonesia boleh melaksanakan shalat terawih di masjid selama bulan Ramadhan 1422 hijriah dengan tetap mentaati protokol kesehatan COVID-19 secara ketat.


"Kita persilahkan masjid di semua daerah dibuka tapi tetap dengan menjaga jarak," ujarnya.


Mantan Wakil Presiden RI itu mengakui, pelaksanaan ibadah ramadhan kali ini tetap dilakukan umat Islam dalam situasi pandemi COVID-19. Hanya saja, situasinya agak berbeda. 


Yakni, jika sebelumnya umat Islam dianjurkan beribadah di rumah saja. Namun tahun ini, pelaksanaanya bisa dilakukan di masjid. 


"Tapi ketentuannya, harus menggunakan masker. Ini bedanya dengan situasi sebelumnya. Karena, mall-mall juga sudah dibuka, masak masjid juga enggak dibuka," tegas JK. 


Dia pun mengingatkan kembali soal protokol kesehatan ekstra ketat, yang harus diterapkan. Di antaranya, menjaga jarak minimal 1 meter antar jemaah, memakai masker, membawa alas salat masing-masing dan masjid wajib menyediakan fasilitas cuci tangan.


Untuk itu, JK meminta para pengurus masjid untuk bertindak tegas apabila ada jamaah yang tidak mematuhi protokol kesehatan, seperti tidak memakai masker pengurus masjid berhak melarang orang tersebut untuk mengikuti sholat berjamaah hingga akhirnya mau menggunakan masker.


"Pakai masker kalau ada jemaah tak pakai masker suruh dulu pakai masker baru boleh masuk kemudian cuci tangan di setiap pintu ada disinfektan, atau sabun atau tempat wudhu meski ada sabun," jelas JK.


Selain itu, menurut JK, protokol kesehatan sebenarnya tak terlalu rumit untuk diterapkan dan dilaksanakan. Karena itu, 

JK menganjurkan, agar pelaksanaan ibadah ramadhan dapat berjalan aman dan lancar. Maka, para pengurus masjid harus mulai melakukan pembersihan seluruh areal masjid dengan disinfektan. 


"Kan sudah jelas, bahwa tempat-tempat umum dan mall-mall itu dapat dibuka dengan syarat laksanakan protokol kesehatan yang ketat. Nah, kalau masjid baiknya jika tidak bisa dengan semprotan,  maka perlu dengan pembersih lantai (dipel)," katanya.





×
Berita Terbaru Update