Notification

×

Iklan

Iklan

DKP NTB Dorong Masyarakat Kurangi Konsumsi Beras Berlebih

| Tuesday, May 25, 2021 WIB Last Updated 2021-05-25T08:46:40Z
Foto : Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, H Fathul Gani.


PARAGRAF
- Dinas Ketahanan Pangan Nusa Tenggara Barat berupaya menurunkan konsumsi dan juga ketergantungan masyarakat terhadap beras dan karbohidrat melalui diversifikasi pangan dengan mengupayakan agar masyarakat memiliki pilihan aneka ragam pangan pokok selain beras.


"Kita mengkampanyekan konsumsi non beras. Bukan berarti tidak baik tapi kita mengurangi," kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, H Fathul Gani di Mataram, Selasa.


Gani mengungkapkan, selama ini indeks konsumsi beras di Provinsi NTB masih tinggi secara nasional mencapai 120 kilogram per kapita per tahun. Padahal, secara nasional standarnya itu 90 kilogram per kapita per tahun.


"Artinya ada gab yang tinggi. Paling tidak kita harus menekan di bawah 100 kilogram per kapita per tahun," ucapnya.


Karena itu, pihaknya menargetkan angka konsumsi beras tersebut dapat menurun berada pada posisi 90 kg pertahun per orang dari 120 kilogram per kapita per tahun.


"Caranya dengan apa, kita mengarahkan masyarakat secara perlahan-lahan untuk mengganti makan beras atau nasi dengan non beras. Apalagi kalangan paruh baya, lansia dan orang dewasa itu sudah harus beralih ke non beras. Sebab konsumsi terlalu banyak beras kurang baik bagi kesehatan," jelasnya.


Menurut Ketua Kwarda Pramuka NTB ini, untuk menurunkan konsumsi beras tersebut, pihaknya terus berupaya mendorong diversifikasi pangan dari beras ke non beras. Melalui gerakan mengoptimalkan lahan atau pekarangan sebagai lokasi menanam bahan makanan pengganti beras. Contohnya, talas, umbi-umbian, jagung, dan ubi jalar.


"Banyak sekali makanan selain beras seperti jagung, talas, umbi-umbian, sagu sebagai pengganti beras. Apalagi sagu ini kita sedang kembangkan. Ini kita olah sedemikian rupa sehingga cita rasanya tidak kalah dengan produk lain," ucapnya.


Gani menegaskan, program diversifikasi pangan tidak akan menciptakan persaingan penggunaan lahan dengan komoditas padi, jagung dan kedelai. Justru menurutnya, program diversifikasi pangan akan mengoptimalkan lahan pekarangan yang diintegrasikan dalam program Kawasan Rumah Pangan Lestari.


Selain itu, mantan Kepala Biro Umum Setda Provinsi NTB ini, juga mengajak masyarakat untuk bisa merubah pola pikir bahwa tidak makan dengan beras atau nasi belum namanya makan dan kenyang. Padahal dengan makan selain beras justru tubuh lebih sehat dan vitamin yang diperoleh tubuh lebih daripada memakan beras.


"Kita akan merubah "mindset" itu. Karena satu minggu kita tidak konsumsi beras tetap sehat, kita disajikan dengan sayur dan ikan. Ini hanya kebiasaan saja soal makan beras. Jadi kuncinya pada pembiasaan makan beras beralih ke non beras," katanya.




×
Berita Terbaru Update