Notification

×

Iklan

Iklan

Wagub NTB Akui Kasus COVID-19 Naik Usai Lebaran

| Friday, May 28, 2021 WIB Last Updated 2021-05-28T08:42:56Z
Foto : Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj Sitti Rohmi Djalilah.


PARAGRAF - Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, Hj Sitti Rohmi Djalilah mengakui ada kenaikan kasus COVID-19 sebesar 6,4 persen usai libur Lebaran 1442 Hijriah di wilayah itu, meski kondisinya masih tetap terkendali.


"Kondisi di NTB saat ini masih aman terkendali. Dari data angka kasus 12 hari sebelum dan sesudah Lebaran, naiknya hanya 6,4 persen," ujar Rohmi di Mataram, Jumat.


Wagub menyatakan, sebelum Lebaran angka pasien terpapar COVID-19 sebanyak 453 kasus dan setelah Lebaran naik 482 kasus selama kurun waktu 14 Mei sampai 21 Mei di sepuluh kabupaten dan kota. Meski demikian, Wagub menegaskan penanganan dan pengendalian pandemi COVID-19 di NTB berjalan dengan baik. 


"Penanganan terkendali didasarkan pada persentase kesembuhan dan bed occupancy rate atau ketersediaan tempat tidur di rumah sakit dalam batas normal. Bahkan angka kesembuhan NTB masih diatas rata rata nasional dan ketersediaan tempat tidur dibawah lima puluh persen dari indikator normal," ucap Ummi Rohmi sapaan akrab Wagub NTB.


Selain itu, capaian vaksinasi di NTB saat ini sudah menyasar 219.819 orang untuk vaksin dosis pertama atau 195,8 persen dan vaksinasi dosis kedua sudah sebesar 136,1 persen. Hampir dipastikan target vaksinasi bagi tenaga kesehatan, pelayanan publik, guru dan lansia tidak mengalami hambatan berarti. 


"Vaksinasi dosis pertama sudah jauh melampaui seratus persen. Hanya PR nya untuk dosis kedua bagi lansia baru 50,7 persen," kata Wagub NTB.


Wagub menambahkan, pemerintah provinsi juga terus merevitalisasi peran Posyandu keluarga dari fungsi semula yang hanya melayani kesehatan ibu dan anak sebagai program unggulan, menjadi sarana vaksinasi dan persoalan sosial lainnya seperti remaja dan buruh migran juga edukasi dan literasi untuk berbagai sektor karena daya jangkaunya sampai ke masyarakat desa dan dusun. 


Wagub juga menjelaskan, penggunaan alat rapid test antigen Entram buatan NTB yang telah didistribusikan penggunannya di kabupaten dan kota sebagai strategi penanganan. 


"Selain lebih murah, Entram juga memiliki sensitifitas yang cukup baik untuk mendeteksi penyebaran virus dari pemeriksaan setiap orang," katanya.


Diketahui, NTB saat rapat koordinasi penanganan COVID-19 nasional bersama Presiden Jokowi melalui video conference bersama para kepala daerah beberapa waktu lalu pasca Idul Fitri menyebut NTB masuk dalam lima besar zona merah daerah yang tertinggi angka kasusnya.


Namun demikian, seperti ditekankan Wagub, angka kenaikan selama 24 hari menjelang dan usai Lebaran menunjukkan kenaikan yang rendah begitupula dengan penanganan mudik dan kepulangan mantan pekerja migran ke NTB dapat dikendalikan oleh Satgas COVID-19 NTB bersama Forkopimda dan Bupati dan Walikota.





×
Berita Terbaru Update